ABSTRAKSI

BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI TEMPEH LUMAJANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SKRIPSI ABDUR RAHMAN NIM. 2004.100010050 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYARIFUDDIN WONOREJO – LUMAJANG 2009 BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI TEMPEH LUMAJANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) Pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syarifuddin Program Studi Pendidikan Agama Islam ABDUR RAHMAN NIM. 2004.100010050 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYARIFUDDIN WONOREJO – LUMAJANG 2009 Skripsi oleh Abdur Rahman NIM. 2004.100010050 ini telah diperiksa dan disetujui untuk diuji. Lumajang, … …………. 2009 Pembimbing I Hasanudin, S.Ag., M.Pd.I. NIY. 051 021 Pembimbing II Dr. Ahidul Asror, M.Ag. NIY. 041 030 Mengetahui, Ketua Program Studi PAI Hasanudin, M.Pd.I NIY. 051021 Skripsi oleh Abdur Rahman NIM. 2004.100010050 ini telah dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi Dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) Pada tanggal, …. ………. 2009 Dewan Penguji Ketua, Abd. Wadud Nafis, Lc. M.E.I. NIY. 041005 Penguji Utama Dr. Muniron, M.Ag. NIY. 071031 Penguji II Syamsul Hadi HM, M.A. NIY. 041011 Mengesahkan Mengetahui Ketua STITS Prodi PAI K.H.M. Adnan Syarif, Lc. Hasanudin, M.Pd.I NIY. 041001 NIY. 051021 PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan kepada: 1. Bapak, Ema’ dan Kakak serta adikku tercinta yang tak pernah berhenti mendoakan dan mencurahkan semua kasih dan sayangnya untukku; 2. Embahku yang ku hormati karena beliaulah orang pertama kali membimbingku untuk mengenal huruf-huruf Al-Qur’an yang selalu mendoakan dan menasehatiku; 3. Para masyayikh dan semua guruku yang saya hormati, terutama pengasuh Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin dan Ketua Yayasan; 4. Sahabat bilik 3A dan endhokku yang selalu setia mendampingiku dalam setiap suka dan duka serta memberikan dorongan untuk menyelesaikan skripsi ku; 5. Teman-teman seperjuangan dan sahabat baruku yang senantiasa membuat aku menjadi jauh lebih berarti di setiap langkahku; 6. Almamater hijau STITS ku yang menjadi kebanggaan; 7. Kepada Ibuk ”warung perjuangan” yang selalu menyediakan tempat untuk ku berteduh. MOTTO   ••           Artinya : Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikanian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? ABSTRAK Abdur Rahman, 2009: Bimbingan Konseling Sekolah dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik di SMA Tempeh Tahun Pelajaran 2008/2009. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan peserta didik. Dengan pendidikan diharapkan individu (peserta didik) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Indikator keberhasilan sekolah dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik. Sehingga peserta didik perlu mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk meningkatkan prestasinya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam untuk mendiskripsikan bagaimana strategi bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik; Apa saja bentuk-bentuk kenakalan peserta didik; Apa saja pendukung dan kendala bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta didik di SMAN Tempeh. Penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil analisis yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa pelayanan bimbingan konseling di sekolah dalam penanggulangan peserta didik terjadwal dengan rutin setiap minggunya selama satu kali. Guru BK mendapat kewajiban memanggil peserta didik untuk mengetahui permasalahan peserta didik dibidang akademik maupun non akademik. Proses pelayanan menggunakan berbagai strategi dan pendekatan. Kenakalan yang terjadi di SMAN Tempeh, ialah: sering bolos, telat dan perkelahian; Pendukung kegiatan ialah para tokoh Agama, orang tua dan kepolisian. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling juga mempengaruhi prestasi akademik di sekolah yang dapat dilihat dari beberapa nilai mata pelajaran di rapor subjek yang naik. KATA PENGANTAR     Ungkapan Syukur yang teramat dalam dersembahkan kehaditarat Allah Azza Wajal, karena dengan pertolonganNya, penulisan skripsi berjudul bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh akhirnya dapat diselesaikan sesuai rencana. Relevan dengan judulnya, skripsi ini berupaya mengkaji secara serius bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh, diharapkan hasil kajian ini selain bermanfaat sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) pada program S1 STIT Syarifuddin Lumajang, juga mambawa manfaat bagi pihak-pihak terkait sebagai upaya inovasi ilmiyah untuk memperbanyak kazanah keilmuan, sebagai bahan komparasi, evaluasi dan pengembangan lebih lanjut sekaligus sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam melakukan kebijakan kebijakan yang berkaitan dengan bimbingan konseling sekolah untuk memajukan generasi bangsa. Penghargaan yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi penulisan dan penyelesaian karya ini, terutama kepada : 1. Bapak KH. M. Adnan Syarif, Lc sebagai ketua STIT Syarifuddin Wonorejo Kedungjajang Lumajang. 2. Bapak Hasanudin, M.Pd. sebagai dosen Ketua Program Studi dan sekaligus sebagai dosen pembimbing yang telah ikhlas meluangkan waktunya untuk mengarahkan penulis pada kesempurnaan. 3. Bapak Dr. Ahidul Asror, M.Ag. yang juga sebagai dosen pembimbing telah ikhlas mengarahkan peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini pada kesempurnaan. 4. Bapak dan Ibu yang telah banyak memberikan dorongan moral dan materiil sehingga skripsi in terselesaikan. 5. Sahabat tercinta yang menjadi teman diskusi serta memberikan tambahan referensi. 6. Dan pihak pihak lain yang terlibat dalam penulisan skripsi ini Kepada mereka semua disampaikan jazakumulloh khairon katsiro. Namun demikian, dalam penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan dan kekurangan, untuk itu kritik konstruktif selalu diharapkan demi perbaikan dimasa-masa yang akan datang. Akhirnya hanya kepada Allah SWT. diajukan permohonan, semoga karya ini bermanfaat bagi kita semua, Amin Allahumma Amin! Lumajang, … …….. 2009 Peneliti DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ii HALAMAN PERSETUJUAN iii HALAMAN PENGESAHAN iv HALAMAN PERSEMBAHAN v HALAMAN MOTTO vi ABSTRAK vii KATA PENGANTAR viii DAFTAR ISI x DAFTAR TABEL xii DAFTAR BAGAN xiii DAFTAR GAMBAR xiv DAFTAR LAMPIRAN xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Fokus Masalah Penelitian 5 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 6 D. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah 8 E. Definisi Operasional 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kurikulum Berbasis Lingkungan Hidup 12 1. Pengertian Kurikulum 12 2. Pengertian Lingkungan Hidup 13 3. Pengertian Kurikulum Berbasis Lingkungan Hidup 14 B. Pendidikan Lingkungan Hidup 16 1. Pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup 16 2. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup 18 C. Program Sekolah Adiwiyata 19 1. Pengertian Program Adiwiyata 19 2. Tujuan Program Adiwiyata 20 3. Indikator Program Adiwiyata 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 24 B. Kehadiran Peneliti 25 C. Lokasi Penelitian 26 D. Sumber Data 27 E. Prosedur Pengumpulan Data 28 F. Analisis Data 31 G. Pengecekan Keabsahan Data 33 H. Tahap-Tahap Penelitian 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Objek Penelitian 35 B. Penyajian Data 44 C. Analisa Data 75 D. Diskusi dan Interpretasi 80 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 83 B. Saran-saran 84 DAFTAR PUSTAKA MATRIK PENELITIAN LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP DAFTAR TABEL No Nama Tabel Halaman 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 Kondisi Guru Dan Karyawan SMA Negeri Tempeh Daftar Guru Dan Pembagian Jam Mengajar Semester II Daftar karyawan tenaga administrasi Sarana dan prasarana Pembagian tugas dalam pelayanan bimbingan konseling Tata tertib Kreteria bentuk pelanggaran dan bobot pelanggaran Bobot pelanggaran dan sanksi 38 39 40 41 45 49 50 52 DAFTAR BAGAN No Nama Bagan Halaman 4.1 4.2 4.3 Struktur dasar organisasi SMA Negeri Tempeh Struktur organisasi komite SMA Negeri Tempeh Struktur organisasi pelayanan bimbingan konseling 42 43 59 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 4.1 Proses pelayanan konseling dalam pemanggilan orang tua ke sekolah 55 4.2 Pengenalan lingkungan dalam mencintai lingkungan dan kebersihan 55 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Daftar nama informan penelitian 2. Pedoman wawancara 3. Pedoman observasi 4. Foto-foto kegiatan 5. Silabus mata pelajaran Bimbingan Konseling kelas XII 6. Surat permohonan izin penelitian 7. Surat Keterangan penelitian 8. Sertifikat Akreditasi Sekolah 9. Surat Keputusan Bupati Lumajang 10. Program Tahunan dan Program Semester Bimbingan Konseling 11. Agenda Layanan Bimbingan Konseling 12. Kartu Layanan dan Surat Pernyatan Klien 13. Jurnal kegiatan penelitian 14. Denah SMA Negeri Tempeh Lumajang

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………  i

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………………….  ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..  iii

A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………..   1

B. Fokus Penelitian ……………………………………………………………………………….   6

C. Tujuan Penelitian ………………………………………………………………………………   6

D. Manfaat Penelitian  …………………………………………………………………………..   7

E. Definisi Konsep ………………………………………………………………………………..   8

F. Kajian Kepustakaan ………………………………………………………………………….   9

1. Penelitian Terdahulu ……………………………………………………………………….   9

2. Kajian Teori …………………………………………………………………………………  10

G. Metode Penelitian …………………………………………………………………………….  13

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……………………………………………………….  13

2. Lokasi Penelitian …………………………………………………………………………..  14

3. Sumber Data ………………………………………………………………………………..  14

4. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………………………  14

5. Analisis Data ………………………………………………………………………………..  16

6. Keabsahan Data ……………………………………………………………………………  18

H. Sistematika Pembahasan ……………………………………………………………………  19

DAFTAR PUSTAKA  ………………………………………………………………………………  20

MATRIK PENELITIAN ……………………………………………………………………………  22

lEMBARAN PENGESAHAN

BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN PESERTA DIDIK

DI SMAN TEMPEH

TAHUN PELAJARAN 2008/2009

 

 

PROPOSAL  PENELITIAN

 

 

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syarifuddin Program Studi Pendidikan Agama Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

 

ABDUR RAHMAN

NIM : 2004100010050

 

Disetujui Pembimbing

Hasanudin, S.Ag., M.Pd.I                                Dr. Ahidul Asror, M.Ag.

NIY. 051 021                                                 NIY. 041 030

BAB I, II, III, IV & V

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu pijakan penting dalam kehidupan, baik dalam lingkup kehidupan personal maupun sosial.

Sedangkan menurut Hasan Langgulung, pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang di didik dan setiap suasana pendidikan mengandung tujuan, kandungan dan metode.[1]

Sedangkan dalam proses pendidikan, semua stakeholder yang terkait dengan proses tersebut mempunyai peran dan tanggungjawab sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Masing-masing peran tersebut harus berjalan secara sinergis saling melengkapi sehingga membentuk sustu sistem yang harmonis. Dari peran-peran yang ada, peran guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam melaksanakan kegiatan BK di sekolah.[2]

Sesuai dengan firman Allah SWT. Surah An-Nahl:125 yang berbunyi:

1

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd `|¡ômr& ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

Artinya  “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.[3]

Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan dari, untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian yang  khas. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur, cara dan bahan agar idividu tersebut mampu mandiri dalam memecahakan masalah-masalah yang dihadapinya. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan  pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli kepada yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Dengan bimbingan dan konseling tersebut, anak didik akan melakukan aktifitas belajar sesuai dengan apa yang telah ditentukan, atau telah diatur dalam suatu  aturan norma.

Frederick Harbison dalam Todaro yang menyatakan bahwa: Sumber daya manusia merupakan modal dasar dari kekayaan suatu bangsa. Modal fisik dan sumber daya alam hanyalah faktor produksi yang pada dasarnya bersifat pasif. Manusia yang merupakan agen-agen aktif akan mengumpulkan modal, mengeksploitasikan sumber daya alam, membangun berbagai macam organisasi sosial, ekonomi dan politik, serta melaksanakan pembangunan nasional. Dengan demikian jika suatu negara tidak segera mengembangkan keahlian dan pengetahuan rakyatnya, maka Negara tersebut tidak akan dapat mengembangkan apa pun.[4]

Sesuai dengan kutipan di atas bahwa peran manusia untuk mengembangkan pembangunan dalam aspek apapun harus melalui pembenahan sistem pendidikan. Karena pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosio budaya di mana dia hidup.

Fenomena pendidikan banyak dijumpai keadaan pribadi yang kurang baik dan rapuh, kesusilaan yang rendah bahkan keimanan serta ketaqwaan yang dangkal. Bagaimana tidak sering terjadi perkelahian, tawuran, mabuk-mabukan, memakai obat-obatan terlarang dan bahkan banyak bermunculan vidio-vidio porno yang dimainkan oleh anak sekolah. Yang seharusnya pengembangan kemanusiaan seharusnya mencapai kemandirian yang matang, dengan kemampuan sosial yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan keimanan serta ketaqwaan yang dalam. senada dengan dukungan pemerintah melalui UU no 20 Th. 2003 tentang pendidikan nasional mengemukakan dalam pasal 1 ayat (1) yang berbunyi: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran dan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”.[5]

Akan tetapi bebagai permasalahan yang dialami peseta didik ini kadang berlarut-larut di biarkan begitu saja karena kurang pengawasan dari orang  tua dan pengaruh lingkungan. Apalagi dalam usia remaja yang selalu pingintahu dalam hal apapun. Dalam hal ini untuk pencegahan prilaku-prilaku yang tidak diharapkan adalah mengembangkan potensi diri dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standart kopetensi kemandirian. Upaya dalam pengendalian seperti ini harus melalui bimbingan konseling.

Maka dari itu upaya kegiatan pengawasan dan pembinaan bimbingan konseling di sekolah melibatkan interaksi yang dinamis dan terus menerus antara guru dan pengawas sekolah. Agar interaksi tersebut berjalan dengan arah, isi dan jalur yang tepat, maka pendidik (pembimbing atau guru kelas) dan pengawas sekolah yang bersangkutan perlu memiliki wawasan yang sejalan, baik mengenai bidang bimbingan dan konseling itu sendiri maupun pelaksanaan kegiatannya di sekolah. Kesejalanan itu akan bekembang dan terjalin melalui pemahaman tentang peranan bimbingan dan konseling dalam pengembangan diri dan potensi anak didik. Sehingga penanggulangan terhadap kenakalan akan segera teratasi dan membuat anak didik dapat mengembangkan potensi yang terkubur dalam dirinya.

Namun petugas bimbingan konseling di sekolah haruslah memiliki kualitas profesional yang memadai sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan tugas bagi pembimbing dan konselor.[6]

Sekolah Menangah Atas Negeri (SMAN) Tempeh kabupaten Lumajang adalah sekolah yang dalam hal ini secara terus menerus mengimplementasikan program bimbingan konseling, agar anak didik dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan menciptakan kreatifitas yang berguna bagi masyarakat, negara dan terutama bagi dirinya sendiri.

Keadaan SMAN Tempeh kabupaten Lumajang tampak asri yang  ditunjang oleh program kelestarian lingkungan hidup. Guna untuk menambah kegiatan serta mengajarkan peserta didik untuk mencintai lingkungan dan belajar dengan alam.

Program kelestarian lingkungan hidup dalam lingkungan sekolah, ini juga dikenal dengan adiwiyata. Adiwiyata adalah Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Di SMAN Tempeh juga terdapat kegiatan yang melengkapi kegiatan keagamaan. Tapi kali ini untuk melestarikan tempat peribadatan yang disebut dengan REMUS (remaja musholla) serta banyak lagi kegiatan-kegiatan peserta didik guna untuk mengisi kejenuhan yang mereka hadapi karena dalam usia mereka sering terjadi ketegangan pemikiran. Banyak orang mengatakan masa SMA adalah masa-masa remaja.

Sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Bimbingan Konseling Sekolah dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik di SMA Tempeh

  1. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, fokus penelitian dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh tahun pelajaran 2008/2009?

2. Apa saja bentuk-bentuk kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh tahun pelajaran 2008/2009 ?

3. Apa saja pendukung dan kendala bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh tahun pelajaran 2008/2009?

  1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. 1. Tujuan Umum

mendiskripsikan bagaimana strategi bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN di Tempeh tahun pelajaran 2008/2009.

  1. 2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh tahun pelajaran 2008/2009

b. Untuk mengetahui Apa saja pendukung dan kendala bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh tahun pelajaran 2008/2009.

  1. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang peneliti harapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan ilmu pengetahuan dengan memperkaya dan menambah teori-teori di dunia pendidikan, khususnya dalam bidang bimbingan konseling.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti dalam menuntut ilmu dan hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh peneliti dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan penerapan metode bimbingan dan konseling.

b. Bagi Lembaga

Dengan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangsih pemikiran dan meningkatkan model bimbingan agar sesuai keadaan pendidikan yang relevan dengan zaman.

c. Bagi STIT Syarifuddin

Bagi STIT Syarifuddin Wonorejo, diharapkan sebagai masukan ilmu pengetahuan dalam memperkaya dan menambah pengetahuan bagi calon pembimbing dan konselor. Selain itu, diharapkan berguna sebagai acuan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

  1. Definisi Konsep

Dalam judul acuan proposal ini ada dua kata kunci, bimbingan konseling sekolah dan menanggulangi kenakalan peserta didik dengan definisi sebagai berikut:

1. Bimbingan konseling sekolah

Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan dari, untuk dan oleh manusia. Bimbingan berarti proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur.[7] Sedangkan kata konseling adalah sebuah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara oleh seorang ahli[8]

Dalam kesimpulannya bimbingan konseling sekolah adalah sebuah layanan yang berorientasi pada anak didik untuk memahami keberadaan dan kebutuhan anak didik, serta membantu anak didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.[9]

2. Kenakalan peserta didik

Menanggulangi kenakalan peserta didik yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh yang belum dialami oleh pembimbing ataupun sudah dialami tentang bagaimana cara untuk menaggulangi problem tersebut.

Jadi yang di maksud dalam “Bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh” adalah bagaimana upaya yang dilakukan pembimbing untuk mencegah kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh kabupaten Lumajang.

  1. Sistematika  Pembahasan

Untuk memberikan pemahaman yang lebih sempurna, maka pembahasan ini akan dibagi menjadi 5 (lima) bab yaitu :

Bab I adalah pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, defenisi konsep, dan sistematika pembahasan.

Bab II adalah kajian kepustakaan yang terdiri atas penelitian terdahulu dan kajian teori tentang bimbingan konseling sekolah.

Bab III adalah metode penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

Bab IV adalah penyajian data dan analisis data yang berisi gambaran objek penelitian, penyajian dan analisis data, serta pembahasan temuan.

Bab V adalah kesimpulan dan saran-saran, yang memuat kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang diperlukan.

 

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

  1. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian-penelitian mengenai bimbingan konseling sekolah yang pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, yakni penelitian yang telah dilakukan oleh saudari Nur Saeha, mahasiswi STIT Syarifuddin Lumajang (2008) dengan skripsinya yang berjudul Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Pengendalian Peserta Didik Studi kasus di SMPN 1 Sumberbaru Jember. Di mana pembahasan skripsi tersebut memaparkan bahwa bimbingan konseling sekolah dalam penanganan kenakalan peserta didik sukses bila ada program, penerapan dan evaluasi tindak lanjut bimbingan konseling sekolah.

Selain itu judul terkait pernah juga diteliti oleh Erfan Hawawi, mahasisiwa STAIN Jember (2007), mengenai Model Bimbingan Konseling dalam Menanggulangi Kenakalan Siswa Di Madrasah Aliyah Negeri Jember I Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Tahun Ajaran 2006/2007. Dimana pembahasan skripsi tersebut memaparkan bimbingan konseling adalah sebuah upaya penanggulangan kenakalan siswa dengan mengadakan sebuah upaya preventif secara individual dan kelompok. Meliputi bimbingan study, pribadi dan social, jabatan dan karir guna untuk pemecahan problem yang dihadapi dan bimbingan informasi, pengembangan dan pencegahan guna untuk setelah lulusan. Serta juga upaya kuratif untuk pemberian hukuman teguran dan peringatan.

10

Juga yang ditulis oleh Fuadi, mahasisiwa STAIN Jember (2004) dalam skripsinya, Peran Bimbingan dan Konseling Sebagai Sarana Pengendalian Kenakalan Peserta Didik di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Jember Tahun Pelajaran 2003/2004 menjelaskan bahwa bimbingan konseling mempengaruhi perkembangan anak. Dan juga menjelaskan tahap-tahap; pertama persiapan untuk rencana program bimbingan dan konseling berusaha melahirkan program yang benar-benar sesuai dengan kebanyakan permasalah yang dihadapi. Kedua pelaksanaan program yang terahir evaluasi program yang diadakan tiga kali dalam satu tahun.

Di sini peneliti lebih menitik beratkan penelitiannya kepada sebuah proses bimbingan konseling dalam implementasinya serta bagaimana strategi bimbingan konseling dalam penanggulangan kenakalan peserta didik secara preventif dan kuratif.

  1. Kajian Teori
  1. 1. Pengertian Bimbingan Konseling
    1. Pengertian Bimbingan

Menurut berbagai sumber dijumpai pengertian-pengertian yang berbeda mengenai bimbingan, tergantung dari sumbernya dan yang merumuskan pengertian tersebut. Bimbingan dapat diartikan dapat diartikan sebagai sebuah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan saran yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.[10]

Pakar bimbingan lain mengungkapkan bahwa, bimbingan diartikan sebagai bantuan yang dapat diberikan oleh pribadi yang terdidik wanita ataupun pria yang terlatih, kepada setiap individu yang usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan hidup, mengembangkan sudut pandangnya, mengambil keputusannya sendiri dan menanggung bebannya sendiri.[11]

Lebih lanjut dikemukakan bahwa bimbingan adalah: (1) suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri, (2) suatu cara untuk memberikan bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya, (3) sejenis pelayanan kepada individu-individu agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan diri dalam lingkungan dimana mereka hidup, (4) suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan dari lingkungannya.[12]

Pakar bimbingan yang lain, dalam mengartikan bimbingan dengan mengemukakan huruf-huruf bimbingan yang dijadikan akronim sebagai unsur pokok agar memudahkan pemahaman, yaitu: B = bantuan; I = individu; M = mandiri; B = bahan; I = interaksi; N = nasihat; G = gagasan; A = alat dan asuhan; N = norma

Dengan memasukkan semua unsur di atas bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu atau kelompok agar  mereka itu dapat mendiri melalui berbagai bahan, interaksi, nasihat, gagasan, alat dan asuhan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.[13]

Dengan demikian usaha bimbingan ialah sebuah usaha yang didasarkan oleh norma-norma yang berlaku, baik norma agama, norma adat, maupun norma Negara (hukum). Tujuan dan pelaksanaan pelayanan bimbingan tidak boleh menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat.

  1. Pengertian Konseling

Konseling adalah terjemahan dari kata counseling, merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun sebagai teknik. Konseling  merupakan usaha membantu konseli/klien agar dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.[14]

Lebih lanjut prayitno mengungkapkan konseling adalah pertemuan empat mata antara konseli dengan konselor yang berisi usaha yang laras, unik dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.[15] Juga pendapat yang sama mengungkapkan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.[16]

Konseling merupakan  bentuk khusus  dari usaha bimbingan, yaitu suatu pelayanan yang diberikan oleh konselor kepada seseorang secara perorangan atau kelompok. Dalam proses konseling ini orang yang diberi konseling itu biasanya disebut klien atau konseli. Usaha yang dilakukan di dalam suasana konseling ini hendaknya merupakan usaha yang laras, seimbang dan sesuai dengan masalah yang dialami. Sebab konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang.[17]

Seperti halnya pengertian bimbingan juga terdapat dalam memahami konseling dengan mengemukakan huruf-huruf konseling yang dijadikan akronim sebagai unsur pokok agar memudahkan pemahaman, yaitu: K = kontak; O = orang; N = menangani; S = masalah; E = expert (ahli); L = laras; I = integrasi; N = norma; G = guna.

Dengan demikian, pengertian konseling adalah: kontak antara dua orang (yaitu konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku, untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi klien.[18]

Dari pengertian tersebut peneliti sampaikan ciri-ciri pokok konseling yaitu pertama, adanya bantuan dari seorang ahli; kedua, proses bantuan dilakukan dengan wawancara konseling; ketiga, bantuan yang diberikan agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya dimasa yang akan datang.

  1. 2. Fungsi dan Tujuan Bimbingan Konseling
  2. Fungsi Bimbingan Konseling

Layanan bimbingan konseling merupakan bagian intergral dari pendidikan. Sebagai guru BK hendaknya memenuhi sejumlah fungsi dalam pelaksanan bimbingan konseling, antara lain:

1)      Fungsi pemahaman, yaitu untuk membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya, konseli diharapkan mampu mengembangkannya dan beradaptasi dengan lingkungannya.[19]

2)      Fungsi preventif, yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah dan berupaya mencegahnya, dengan memberikan cara menghindarinya, menggunakan pelayanan orientasi, informasi dan kelompok.

3)      Fungsi pengembangan, yaitu konselor berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif, bekerjasama dengan personel sekolah upaya membantu konseli mencapai tugas-tugasnya.

4)      Fungsi penyembuhan, yaitu pemberian bantuan kepada konseli baik menyangkut aspek pribadi, sosial, maupun karir dengan mengadakan konseling dan remedial teaching.

5)      Fungsi penyaluran, yaitu upaya membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, bekerjasama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga.

6)      Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli.

7)      Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

8)      Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak).

9)      Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

10)  Fungsi Pemeliharaan, yaitu upaya untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.[20]

  1. Tujuan Bimbingan Konseling

Tujuan umum bimbingan konseling adalah membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan yang dimilikinya, bermacam-macam latar belakang yang ada dan sesuai dengan tuntutan positif lingkungan, untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupan.

Adapun tujuan khusus dalam membantu permasalahan yang dialami individu yang bersangkutan sesuai dengan komplekstivitas permasalahan.[21]

  1. 3. Strategi Bimbingan Konseling
  2. Penyusunan Program Bimbingan Konseling

Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling hendaknya kegiatan yang dilakukan pembimbing adalah: Pertama, tahap persiapan melalui survey untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan, kemampuan sekolah serta kesiapan sekolah bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan dan semua pihak lembaga sejak awal kegiatan; kedua, pertemuan-pertemuan permulaan untuk menanamkan pengertian bagi peserta; ketiga, pembentukan panitia sementara bertujuan merumuskan program, tujuan, bagan dan membuat kerangka dasar program bimbingan; keempat, pembentukan panitia sementara bertujuan untuk mempersiapkan program testing, mempersiapkan dan melaksanakan sitem pencatatan, mempersiapkan dan melaksanakan latihan bagi para pelaksana program.[22]

  1. Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan Konseling

Dalam pelaksanan pelayanan bimbingan konseling mempunyai langkah-langkah kegiatan yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1)      Indentifikasi kasus dan identifikasi masalah. Berisi tentang pengadaan pendekatan, sehingga hubungan antara konselor dengan klien lebih baik; membangkitkan potensi klien dan menentukan  berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah; membangun perjanjian antara konselor dengan klien.

2)      Diagnosis dan prognosis. Menjelajahi dan mengeksploitasi masalah klien lebih dalam; peninjauan kembali terhadap masalah yang dihadapi; menjaga hubungan konseling tetap terpelihara.

3)      Treatment, evaluasi dan follow up. Mengadakan upaya penyembuhan; konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai proses konseling; menentukan tindakan berdasarkan kesepakatan yang terbangun; mengevaluasi jalannya proses (penilaian segera); membuat perjanjian pertemuan berikutnya.

Selain keterangan di atas pembimbing juga perlu mengadakan pendataan (himpunan data) untuk mendukung kegiatan bimbingan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif dan tertutup. Selain itu mengadakan konfrensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan ini sebagai kegiatan pendukung bimbingan.[23]

Juga dalam pelaksanaan ini haruslah ada kerjasama yang jelas agar kegiatan pelaksanaan bimbingan konseling ini berjalan efektif  dan lancar, diantaranya:

1)      kerja sama dengan pihak dalam sekolah, seperti seluruh tenaga pengajar (guru), seluruh tenaga administrasi/keamanan dan dengan organisasi intra sekolah.

2)      Kerja sama dengan pihak luar sekolah seperti, orang tua peserta didik, lembaga  atau organisasi kemasyarakatan dan tokoh masyarakat.[24]


  1. 4. Kenakalan Peserta Didik
  2. Pengertian Kenakalan Peserta Didik

Peserta didik mempunyai kebaikan yang menuntut untuk dipenuhi dan merupakan pola sumber dari timbulnya berbagai masalah di dalam dirinya terutama dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya.

Kenekalan anak (peserta didik) adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan diketahui oleh anak itu sendiri, jika perbuatannya diketahui oleh yang berwenang bisa di hukum.[25]

Kenakalan anak atau peserta didik adalah penyimpangan tingkah laku, perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan norma hukum, agama dan norma-norma sosial sehingga dapat merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan juga merusak dirinya sendiri.

Masa remaja merupakan transisi dari anak menuju dewasa, memiliki potensi besar untuk melakukan hal menyimpang dari kondisi normal. Seperti ada pergolakan pada diri mereka untuk melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang berada di sekelilingnya. Becker mengatakan bahwa mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian, disebabkan karena setiap manusia pada dasarnya pasti mengalami dorongan pada situasi tertentu.[26]

Kenakalan remaja yang dalam hal ini peserta didik dapat dikategorikan dalam perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang dapat dianggap sumber masalah karena dapat membahayakan sistem sosial.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku meyimpang perlu membedakan adanya unsur kesengajaan atau tidak disengaja, di antaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Hal yang relevan untuk memahami perilaku tersebut adalah, mengapa seseorang melakukan penyimpangan? Karena dengan itu dapat diketahui motiv terjadinya penyimpangan tersebut.

  1. Sebab-Sebab Kenakalan Peserta Didik

Adpun sebab-sebab kenakalan remaja dapat diuraikan sebagai berikut: pertama, dirinya sendiri, kelainan sejak lahir (keturunan fisik maupun psikis), lemahnya kemampuan pengawasan diri, pondasi agama yang belum kokoh; kedua, lingkungan keluarga; kurangnya mendapatkan kasih sayang/perhatian, lemahnya keadaan ekonomi orang tua, kehidupan keluarga tidak harmonis lingkungan sekolah; ketiga, lingkungan sekolah karena banyak hal baru dijumpai dari kehidupan sebelumnya dengan pertambahan umur masuk ke fase dewasa; kempat, lingkungan masyarakat, karena dalam kurangnya pelaksanaan ajaran-ajaran agama yang konsekwen, keadaan masyarakat yang gaptek dan informasi.[27]

Sedangkan menurut pendapat lain mengatakan faktor penyebab terbentuknya sebuah sikap adalah faktor intern, terjadi karena adanya ragsangan-rangsangan yang timbul di dalam dirinya sebab ia terlebih dahulu hal tersebut, apakah berdampak positif atau negatif bagi kehidupannya dan faktor ekstern, timbul karena sifat objek yang dijadikan sasaran sikap, kewibawaan orang yang mengemukakan, sifat orang atau kelompok yang mendukung, media komunikasi yang menyampaikan, situasi pada saat sikap itu dibentuk.[28]

  1. Bentuk-Bentuk Kenakalan Peserta Didik

Kenakalan peserta didik terjadi karena memang pada masa itu mereka sedang berada dalam masa transisi.

Dalam kenakalan peserta didik peneliti memilah dua bagian yaitu, kenakalan di lingkungan sekolah (terlambat sekolah, membolos, tidak memakai atribut sekolah, berpakaian tidak rapi atau tidak sopan, suka mengganggu teman dan keluar jam pelajaran tanpa alasan) dan kenalan di luar sekolah, (Ngedruks, ugal-ugakan di jalan, berkelahi, tindian, melawan orang tua, tindakan asusila dan lain-lain).

Kenakalan remaja (peserta didik) saat ini beragam bentuknya, hal ini karena di pengaruhi oleh dunia bebas yang sering mereka lihat secara langsung ataupun tidak langsung. Karena dalam diri remaja terdapat beberapa karakteristik umum yaitu  kegelisahan, pertentangan, aktivitas berkelompok dan ingin mencoba segala sesuatu.[29]

Akibatnya remaja (peserta didik) banyak yang terjerumus dalam pergaulan bebas, mabuk-mabukan dan rusaknya moral karena kurang pengetahuan agama yang kuat dan perhatian dari orang tua.


  1. 5. Upaya Pengendalian Kenakalan Peserta Didik

Melihat fenomena sekarang, jenis-jenis kenakalan peserta didik banyak dilakukan oleh anak luar sekolah maupun di dalam lingkungan sekolah untuk itu, perhatian dari berbagai pihak sangat diperlukan. Baik pihak keluarga lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Upaya yang dilakukan diantaranya adalah:

  1. Lingkungan Keluarga

Dalam keluarga peran orang tua, sangat besar untuk mendidik dan membimbing anaknya karena orang tua mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan anggota keluarganya.

Dalam lingkungan keluarga, tugas pembinaan dan pembentukan kondisi yang berdampak positif bagi perkembangan mental anak sebagian besar menjadi tanggung jawab kedua orang tua. Kondisi intern keluarga yang negatif atau tidak harmonis akan merusak perkembangan mental anak remaja, terutama broken home dan quasi home dalam segala bentuk dan jenisnya menghambat pertumbuhan mental anak remaja.[30]

Keluarga mempunyai fungsi penting dalam menciptakan ketentraman batin remaja. Bila ia merasa adanya kehangatan, kasih sayang orang tua dan keluarganya, maka jiwanya akan tentram. Jika sebaliknya yang terjadi maka mudah untuk berprilaku menyimpang bahkan akan menentang orang tua.

Seperti yang dikatakan oleh Dorothy Law Nolte, adalah: Pertama, jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia akan belajar memaki; Kedua, jika anak dibesarkan dengan permusuhan,  maka ia akan belajar membenci; Ketiga, jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia akan belajar rendah diri; Keempat, jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia akan belajar menyesali diri dan sebaliknya, Pertama, jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia akan belajar menahan diri; Kedua, jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia akan belajar percaya diri; Ketiga, jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia akan belajar menghargai; Keempat, jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia akan belajar keadilan; Kelima, jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia akan menaruh kepercayaan; Keenam, jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia akan menyenangi diri; Ketujuh, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan menemukan cinta dalam kehidupan.[31]

Dengan itu kehidupan dan tingkah laku remaja tidak terlepas dari apa yang dilihat dan dirasakan dalam kehidupannya. Cara menghadapi kenakalan yang dilakukan oleh remaja, orang tua harus mampu memahami permasalahan yang dihadapi oleh anak. Karena kenakalan yang mereka lakukan diakibatkan oleh keadaan yang memaksa untuk melakukannya. Nawawi berpendapat bahwa situasi lingkungan dalam keluarga sangat berpengaruh sekali terhadap kondisi mental seorang anak. Sehingga lingkungan keluarga membantu anak menjadi orang yang dewasa dan berminat.[32]

 

  1. Lingkungan Sekolah

Ketika awal kali memasuki lingkungan sekolah kebanyakan mereka bangga dan gembira. Gembira karena benar-benar diakui sebagai anak sekolah dari pada sebelumnya dan sejak itu ia berada dalam pergaulan teman-temanya yang lebih banyak lagi. Tapi hal ini bisa berubah di karenakan mereka sering merasakan hal-hal yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa bangga dan gembiranya.

Permasalahn tersebut diakibatkan misalnya:

1)          Keharusan adanya tata tertib sekolah yang menurut mereka mengurangi kebebasannya

2)          Adanya tuntutan tertentu dalam pemberian tugas terlalu berat

3)          Adanya persaingan antara teman-temannya

4)          Sikap kurang menguntungkan yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik.[33]

Tata tertib memang harus dijalankan akan tetapi bagaimana sebuah peraturan itu tidak membuat peserta didik berontak. Mangunwijaya mengatakan peserta didik harus merasakan bahwa sekolah adalah bagi mereka sungguh merupakan surga kecil yang menggembirakan, di sekolah peserta didik harus dihargai, dipahami dan tidak dibodoh-bodohkan maupun diejek-ejek.[34]

Dalam upaya pengendalian kenakalan hendaknya semua pihak yang ada di sekolah yaitu Kepala Sekolah dan guru khususnya guru BK. ini untuk membantu dan menyiapkan langkah-langkah sebagai berikut, penyiapan program agar terciptanya sebuah tujuan yang jelas, implementasi program (meliputi bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier) untuk menjawab berbagai masalah yang dihadapi peserta didik dan evaluasi program untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh tindakan bantuan yang dihadapi dan kelemahan-kelemahan penyusunan sebuah program bimbingan.

  1. Lingkungan Masyarakat

Secara psikologis peserta didik (remaja) memang perlu mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari lingkungan masyarakat sekitar, sehingga remaja merasa dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Namun yang lebih penting adalah teladan yang baik dari masyarakat berupa penanaman norma-norma hukum karena, pada saat remaja berada pada kondisi perkembangan dan transisi seharusnya mereka berada dalam lingkungan yang tentram dan sentosa.

Anak remaja (peserta didik) juga termasuk anggota masyarakat yang mudah terpengaruh dari keadaan dan lingkungan baik langsung atau tidak langsung. Biasanya akan terjadi ekselerasi perubahan sosial yang memberikan status pasti bagi remaja untuk timbul kelompok-kelompok remaja dengan sikap dan tindakannya menyimpang dari nilai-nilai  tradisi masyarakat.[35]

Dengan demikian jelaslah tanggung jawab dalam membina kepribadian anak bukan hanya tugas orang tua saja melainkan tugas pendidik, masyarakat dan pemimpin masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan  moral guna untuk menjadikan generasi bangsa yang sehat dan bertaqwa.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif. Hal ini karena pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif  berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.[36] Sesuai dengan penelitian ini, nantinya peneliti akan mencari data-data deskriptif tentang cara penanggulangan kenakalan peserta didik yang membutuhkan pendekatan penelitian untuk mendeskripsikan data atau hasil penelitian, serta membutuhkan pengamatan dalam  proses pelaksanaan bimbingan dan konseling tersebut sesuai atau tidak, efektif atau tidak dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik.

Penelitian ini adalah deskriptif, karena tujuan dari penelitian deskriptif yaitu untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.[37] Sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian, jenis penelitian ini  sangat tepat karena peneliti akan mendeskripsikan data bukan untuk mengukur data yang diperoleh.

  1. B. Lokasi Penelitian
26

Lokasi penelitian ini adalah SMA Negeri yang letak geografisnya di jalan raya Tempeh kabupaten Lumajang. Hal ini disebabkan sekolah tersebut merupakan institusi disebut sekolah pinggiran desa akan tetapi proses dan perkembangannya tidak kalah dengan sekolah yang berada di perkotaan.

  1. C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.[38] Data tersebut adalah data yang ada kaitannya dengan metode dan strategi bimbingan konseling dalam menanggulangi kenakalan peserta didik yang dibutuhkan data-data akurat yang berasal dari sumber-sumber penelitian di  lembaga pendidikan yang menjadi objek penelitian.

Adapun yang menjadi sumber data atau informasi dalam penelitian ini adalah: Guru BK (bimbingan konseling), Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Waka Humasy, kesiswaan, Guru dan segenap karyawan sekolah serta Peserta didik SMAN Tempeh

  1. D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang diiginkan peneliti serta data-data yang faktual dan akurat, Peneliti menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

  1. Metode Observasi

Pengumpulan data dengan observasi atau pengamatan adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.[39] Untuk mendapatkan gambaran yang jelas serta untuk memperoleh data yang faktual  tentang cara guru ataupun konselor (guru BK) dalam menghadapi peserta didiknya. maka peneliti harus melihat sendiri proses yang terjadi di lapangan. Dengan pengamatan secara langsung terdapat kemungkinan untuk mencatat hal-hal, yang berkaitan dengan proses belajar, keaktifan dan kedisiplinan peserta didik di lingkungan sekolah ataupun tentang hal yang berkaitan dengan proses bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik. Dengan metode observasi data yang terkumpul dapat dicatat dan diketahui langsung oleh pengamat dan tidak menggantungkan data dari hasil ingatan seseorang atau orang lain.

  1. Metode Wawancara

Metode wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Hal ini dilakukan antara dua orang atau lebih.[40]

Data-data yang  akan digali dalam penelitian ini meliputi:

  1. Bagaimana bentuk kenakalan peserta didik di SMA Tempeh
  2. Bagaimana penanggulangan kenakalan peserta didik
  3. Apa saja pendukung dan kendala yang dihadapi pembimbing dalam mengahadapi peseta didik yang bermasalah
    1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.[41] Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tertulis dari SMAN Tempeh. Adapun data yang diharapkan peneliti meliputi: sejarah berdirinya Sekolah, letak geografis dan denah ruang SMAN di Tempeh, struktur organisasi, sarana dan fasilitas sekolah, keadaan jumlah guru dan peserta didik, dan lain sebagainya.

  1. E. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. Dimana inti dari analisis data ini terletak ketiga proses yaitu mendeskripsikan fenomena, mengklasifikasikannya, dan melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu, satu dengan lainnya berkaitan.

Data mentah yang dikumpulkan tidak akan ada gunanya jika tidak dianalisis. Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam sebuah penelitian ilmiah, karena dengan analisis, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian.[42] Adapun langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Klasifikasi Data

Dalam analisis data, data yang terkumpul harus diklasifikasi dan memadukannya kembali. Agar data yang terkumpul lebih faktual dan akurat. Dalam tahap ini peneliti harus memilah data antara data kualitatif dan data kuantitatif.

  1. Mengelola Data

Analisis data yang baik memerlukan pengelolaan data yang dilakukan secara sistematis dan efesien. Oleh karena itu kita harus mencatat data dalam format yang memudahkan untuk menganalisisnya. Pengelolaan data ditujukan untuk mendeskripsikan data secara praktis dan mudah untuk difahami.

  1. Penarikan Kesimpulan

Setelah data diolah dengan baik, maka peneliti perlu menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan akhir dalam analisis data dan dari hasil kesimpulan peneliti akan mengetahui jawaban dari masalah yang diteliti. Dan data tersebut harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya yang merupakan faliditas dari data tersebut.[43]

  1. F. Keabsahan Data

Agar data yang diperoleh benar-benar data yang faktual dan akurat, maka peneliti melakukan keabsahan data yang memerlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan tehnik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confermability).[44]

Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah melakukan penyederhanaan data serta diadakan perbaikan dari segi bahasa maupun sistematikanya agar dalam pelaporan hasil penelitian tidak diragukan lagi keabsahannya.

  1. Tahap-Tahap Penelitian

Terdapat tiga tahap pokok dalam penelitian kualitatif yang harus peneliti lakukan, yaitu: (1) tahap pra-lapangan; (2) tahap kegiatan lapangan; (3) tahap analisis data. Sejalan dengan pendapat tersebut, penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, tahap pertama orientasi, kedua tahap pengumpulan data dan ketiga tahap analisis data.

Dalam tahap pra lapangan peneliti melakukan observasi ke SMA Negeri Tempeh Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang, untuk mendapatkan data tentang gambaran umum lokasi penelitian, pada tahapan ini peneliti juga menentukan langkah-langkah menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus peridzinan, menjajaki, menilai kondisi dan keadaan lokasi penelitian, menentukan informan dan subyek studi serta menyiapkan perlengkapan penelitian.

Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah tahap eksplorasi fokus atau tahap pekerjaan lapangan. Setelah melalui tahap-tahap tersebut lalu peneliti menentukan fokus yang peneliti anggap menarik, dalam hal ini peneliti memfokuskan masalah tentang Implementasi Kurikulum Berbasis Lingkungan Hidup di SMA Negeri Tempeh Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang Tahun Pelajaran 2007/2008.

Tahapan berikutnya adalah pengecekan dan pemeriksaan keabsahan data. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah mengadakan pengecekan data dengan informan dan subjek studi maupun dokumen untuk membuktikan keabsahan data yang telah diperoleh. Pada tahap ini juga dilakukan penyederhanaan data yang diberikan oleh informan maupun subjek studi serta diadakan perbaikan dari segi bahasa maupun sistematikanya agar dalam pelaporan hasil penelitian tidak diragukan lagi keabsahannya.

 

BAB IV

PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN

  1. A. Latar Belakang Objek Penelitian

SMA Negeri Tempeh didirikan pada tanggal 09 Oktober 1982 dengan SK Piagam Pendirian Sekolah tahun 1982, No. 298/0/1982, No. Statistik 301052109016, No. Data Sekolah 20521460 dan pada tahun 2005 status SMA Negeri Tempeh Lumajang telah terakreditasi A.

Lembaga ini berlokasi di jalan Raya Tempeh Desa Tempeh Tengah Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang. Status tempat berdirinya gedung sekolah adalah milik sendiri, gedung ini dibangun di atas tanah seluas 17.580 m² dengan konstruksi bangunan permanen dan lokasinya tergolong strategis, walaupun berada di desa namun dilalui oleh jalur kendaraaan umum arah Lumajang-Malang sehingga mudah dijangkau.

Letak SMA Negeri Tempeh secara geografis mempunyai batas-batas sebagai berikut:

  1. Sebelah Barat berbatasan dengan sawah dan pemukiman penduduk;
  2. Sebelah Utara berbatasan dengan Kantor Kecamatan Tempeh dan desa Tempeh Tengah;
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kantor PLN dan desa Tempeh Kidul;
  4. Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Lempeni.
32

Pada awal berdirinya SMA Negeri Tempeh dikepalai oleh Bapak Sutomo selaku Kepala SMA Negeri Tempeh yang pertama. Melalui visi sekolah beriman, berilmu dan berbudaya, kini SMA Negeri Tempeh diusianya yang ke-26 telah banyak mencetak prestasi di semua bidang baik akademik maupun non akademik.

Di bawah kepemimpinan Bapak Drs. Suroso, M.Pd. selaku kepala sekolah ke delapan di SMA Negeri Tempeh telah banyak prestasi yang telah diukir dan mulai tahun 2006 lembaga ini telah dibawa untuk ikut menjadi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui program sekolah Adiwiyata, melalui salah satu misi sekolah yaitu “Menumbuhkembangkan sikap sadar lingkungan (darling) dalam pembelajaran berkelanjutan.” Dan diteruskan oleh bapak Drs. Dwi Nirwana, M.Pd. yang dimulai sejak tahun 2008 sampai sekarang.

Lembaga yang mempunyai lahan cukup luas serta memiliki potensi tanah yang subur ini berkesempatan meraih nominasi Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional mewakili Jawa Timur setelah tahun lalu diwakili oleh SMP N 1 Sukodono Lumajang. Dengan bermodal kondisi fisik, kekayaan alam yang melimpah serta lokasi yang strategis, maka SMA Negeri Tempeh secara berkelanjutan akan terus berupaya untuk dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada.

Sekolah yang mempunyai motto “Sekolah Desa Prestasi Kota” ini sejak tahun 1990 telah melakukan kegiatan peduli dan berbudaya lingkungan antara lain:

  1. Lomba 5 (lima) K yang sekarang menjadi 7 (tujuh) K tiap akhir semester;
  2. Budaya Senin bersih (kerja bakti massal bagi seluruh peserta didik);
  3. Budaya Jum’at bersih (kerja bakti massal bagi guru dan karyawan);
  4. Serta penanaman pohon dan bunga di sekitar gedung sekolah, yang sekarang sudah dapat dirasakan hasilnya.

Potensi yang ada di lingkungan SMA Negeri Tempeh dan diharapkan dapat mendukung program Adiwiyata antara lain: 1) halaman sekolah yang luas; 2) lingkungan yang rindang; 3) ketrampilan Vocational membatik; dan 4) jumlah guru yang memadai.

Berikut peneliti paparkan tentang profil sekolah, kondisi peserta didik, kondisi guru dan karyawan, kondisi sarana dan prasarana serta struktur oganisasi SMA Negeri Tempeh.

  1. 1. Profil Sekolah[45]

Nama Sekolah     : SMA Negeri Tempeh

Alamat                : Jl. Raya Tempeh Desa Tempeh Tengah

Telp.                   : (0334) 520670

Kec.                    : Tempeh

Kab/Kodya         : Lumajang

Kode Pos            : 67371

Propinsi               : Jawa Timur

E_mail                 : smantempeh@yahoo.com

  1. 2. Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri Tempeh
  2. Visi: Beriman, berilmu dan berbudaya

Indikator visi:

1). Unggul dalam aktivitas keagamaan

2). Unggul dalam pencapaian nilai ujian nasional

3). Ungul dalam lomba pendidikan ilmiah

4). Unggul dalam lomba olah raga

5). Unggul dalam prestasi kesenian

 

  1. Misi SMA Negeri Tempeh

1)  Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran yang dianut.

2) Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif seluruh warga sekolah.

3)  Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif dan inovatif.

4) Mendorong dan membuat peserta didik untuk giat belajar, melaksanakan penelitian melalui optimalisasi perpustakaan dan laboratorium.

5) Menumbuhkan kreatifitas terhadap budaya bangsa melalui kegiatan ekstrakurikuler, olah raga, kesenian, dan keterampilan.

6) Menumbuhkembangkan sikap sadar lingkungan (darling) dalam pembelajaran yang berkelanjutan.

  1. Tujuan SMA Negeri Tempeh

1)      Mewujudkan peserta anak didik yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu mengamalkan dalam kehidupan  sehari- hari.

2)      Peserta didik lulus ujian 100 % diakhir tahun pelajaran.

3)      Memperoleh nilai ujian nasional rata-rata peringkat dua tingkat kabupaten.

4)      Meraih kejuaran dalam lomba olimpiade mata pelajaran tingkat propinsi.

5)      Meraih kejuaraan dalam bidang fashion, pop singer dan olahraga di tingkat kabupaten.

6)      Membekali peserta didik dengan keterampilan dibidang pariwisata.[46]

  1. 3. Kondisi Peserta didik

Jumlah peserta didik SMA Negeri Tempeh dalam setiap tahunnya selalu mengalami perkembangan terbukti dengan adanya penambahan ruang kelas baru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Pada tahun pelajaran 2008/2009 kondisi peserta didik yang tercatat berjumlah 701 peserta didik. Dengan rincian kelas X berjumlah 240 peserta didik yang terbagi menjadi 6 (enam) kelas, kelas XI berjumlah 238 peserta didik terbagi dalam 6 (enam) kelas, dan kelas XII berjumlah 223 peserta didik yang terbagi dalam 6 (enam) kelas. Prosentase kelulusan kelas XII dalam 3 (tiga) tahun terakhir memenuhi target 100%.

  1. 4. Kondisi Guru dan Karyawan

Guru dan karyawan di SMA Negeri Tempeh kebanyakan adalah pegawai negeri, sedangkan yang masih swasta hanya beberapa saja termasuk guru bantu (guru sukwan) itu berarti tingkat kesejahteraan guru di SMA Negeri Tempeh sudah terjamin.

Adapun tingkat pendidikan guru sudah termasuk dalam guru yang profesional karena kebanyakan hampir 90% guru-guru di SMA Negeri Tempeh bergelar Sarjana pendidikan dan sisanya adalah sarjana muda yang orientasinya pada jalur pendidikan.

Tabel 4.1

Kondisi Guru dan Karyawan

SMA Negeri Tempeh

Tahun Pelajaran 2008/2009[47]

Jabatan PNS GTT/PTT Guru Bantu Jumlah
Guru 34 14 2 50
Karyawan 5 11 - 16

 

 

 

Kondisi guru sangat berpengaruh terhadap prestasi yang diraih peserta didik, setiap bidang studi diharapkan ditangani oleh orang yang tepat sesuai dengan bidangnya. Berikut pembagian jam mengajar semester II tahun pelajaran 2007/2008 dan daftar seluruh nama guru beserta bidang studinya.

 

Tabel 4.2

Daftar Guru dan Pembagian Jam Mengajar Semester II

SMA Negeri Tempeh[48]

No Bidang Studi Nama Kelas Jml
X XI XII
  1. 1.
P. Agama Islam Drs. Habibulloh

 

 

12 12

 

 

Drs. Nur Fathoni

 

12

 

12

 

 

Moh. Kowim, S.Ag. 12

 

 

12

 

P. Agama Katholik Drs. Suwito

 

 

 

 

 

P. Agama Kristen Silvia

 

 

 

 

  1. 2.
KN/ PPKn Dra. Munifah 12

 

 

12

 

 

Drs. Slamet Hariyanto

 

 

12 12

 

 

Penny Harmunis, S.Pd.

 

12

 

12

 

 

Drs Dwi Nirwana, M.Pd. 6

 

 

6
  1. 3.
Bahasa Indonesia Drs. Bibit Subardjo 20

 

 

20

 

 

Drs. AY Bambang SDM

 

 

24 24

 

 

Siti Rochainah, S.Pd. 12 4

 

16
  1. 4.
Bahasa Inggris Dra. Sri Endahyati

 

 

24 24

 

 

Taufiqurrohman, S.Pd.

 

24

 

24

 

 

Endah Shofiatul K. S.Pd. 12

 

 

12

 

 

Andriana, S.Pd. 12

 

 

12
  1. 5.
Matematika Wisanto, S.Pd.

 

 

20 20

 

 

Imam Mahdi

 

 

16 16

 

 

Nurul Aini, S.Pd. 12 10

 

22

 

 

M. Safiudin, S.Pd.

 

 

 

 

 

 

M. Farid K. S.Pd.

 

20

 

20
  1. 6.
Fisika Dra. Rurry Ambarwati

 

10

 

10

 

 

Hasito, S.Pd.

 

 

12 12

 

 

Marsini, S.Pd. 18

 

 

18
  1. 7.
Biologi Drs. Moh. Imanuddin

 

 

10 10

 

 

Drs. Andi Lukito 12

 

 

12

 

 

Siti Samanah

 

10

 

10
  1. 8.
Kimia Dra. Nanny Setijarini

 

10

 

10

 

 

Ismanto

 

 

10 10

 

 

Ernik Wijayanti, S.Pd. 18

 

 

18
  1. 9.
Sejarah Dra. Frida Elistyani

 

3 12 15

 

 

Anik Pristiwahyuni, S.Pd. 6 9

 

15
  1. 10.
Geografi Suprapto, S.Pd. 6

 

12 18

 

 

Lilis, S.Pd.

 

14

 

14
  1. 11.
Ekonomi/Akuntansi Drs. Rohmat

 

8

 

8

 

 

Siana Supartiyam, S.Pd. 12

 

12 24

 

 

Dra. Sismiyati

 

 

12 12

 

 

Ninik SW, S.Pd.

 

12

 

12
  1. 12.
Sosiologi Saiful Syafi’i, Sos & ET 2

 

16 18

 

 

Ika Sumartining Tyas, S.Pd. 12

 

 

12

 

 

Rofik Fredy R, S.Pd.

 

16

 

16
  1. 13.
Pendidikan Seni Sutrisno, BA 12 12 12 36
  1. 14.
Penjaskes Drs. Sampurno 12 12 12 36
  1. 15.
TIK M. Safiudin

 

12 12 24

 

 

Dheta 12

 

 

12
  1. 16.
Bahasa Arab Ali Nur Hasan, S.Pd.I 12

 

 

12

 

 

Saiful Syafi’i, S.Sos & ET

 

 

12 12

 

 

 

 

 

 

 

  1. 17.
Muatan Lokal Drs. Dodik Supriyatna

 

12

 

12

 

English Tourism Hasito, S.Pd.

 

12

 

12

 

PLH Nurlaili, S.Pd. 6

 

 

 

 

 

Hasito, S.Pd. 6

 

 

 

  1. 18.
Pengembangan Diri Drs. Wastu Waluyanto

 

6

 

6

 

 

Hj. Lilik Susilowati, S.Pd.

 

 

6 6

 

 

Ira Rindawati S.Pd. 6

 

 

6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain kondisi guru, kondisi karyawan SMA Negeri Tempeh juga sangat mendukung kesuksesan pelaksanaan program sekolah, adapun data karyawan SMA Negeri Tempeh tahun pelajaran 2008/2009 adalah sebagai berikut:

 

Tabel 4.3

Daftar Karyawan Tenaga Administrasi

SMA Negeri Tempeh

Tahun Pelajaran 2007/2008[49]

No Nama Ijazah Terakhir Jabatan
Tatik Kadarwati SLTA TN Pelaksana
Khamid Arif Erfin SLTA IPS Pelaksana
Bendot Arifin SLTA IPS Pelaksana
Kasubroto SLTA IPA Pembina Pelaksana
Jaelani SLTP Pembina Pelaksana
Umi Wijaya SLTA
  1. Kepegawaian
  2. Membantu Bendahara
Wiwik Puspowati SLTA
  1. Presensi
  2. Agenda
Winarko SLTA
  1. Kebersihan
  2. Membantu Lab. Bahasa
Sigit Purwanto SLTA SATPAM
10. Awan Pribadi B SLTA Pembantu Kurikulum
11. Deta Hasmy S D 1 Perpustakaan
12. Anis Yulisetyo Wati SLTA Koperasi
13. Susiyono SLTP Kebersihan
14. Subadi SD
  1. Penjaga Malam
  2. Kebersihan
15. Takim SD Penjaga Malam
16. Andre SMA Kebersihan

 

  1. 5. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri Tempeh seperti yang tercatat pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 4.4

Sarana dan Prasarana

SMA Negeri Tempeh[50]

No Ruang Jumlah Luas Semua (m²)
1. Ruang teori/kelas 17 1.224
2. Lab. IPA 1 135
3. Lab. Bahasa 1 48
4. Lab. Komputer 1 64
5. Perpustakaan 1 96
6. Kesenian 1 9
7. BK 1 36
8. Kepala Sekolah 1 24
9. Tata Usaha 1 45
Ruang Guru 1 66
OSIS 1 9
KM/WC Guru 4 30
Gudang 1 10
UKS 2 23
Aula 1 360
Sanggar Batik 1 64
Ruang Loby 1 24
Ruang Multimedia 1 72
KM/WC Murid 12 36
Green House 1 36

 

 

 

 

  1. 6. Struktur Organisasi Sekolah

Adapun struktur organisasi SMA Negeri Tempeh dan struktur organisasi Komite SMA Negeri Tempeh adalah sebagai berikut:

 

Bagan 4.1

Struktur Dasar Organisasi

SMA Negeri Tempeh

Tahun Pelajaran 2008/2009[51]
Bagan 4.2

Struktur Organisasi Komite

SMA Negeri Tempeh

Periode 2008-2009[52]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


  1. B. Penyajian dan Analisis Data

Dalam penyajian data ini akan dipaparkan data tentang Strategi bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenalan peserta didik di SMA Negeri Tempeh Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang tahun pelajaran 2008/2009. Adapun data yang disajikan adalah sebagai berikut:

  1. 1. Strategi bimbingan Konseling dalam menanggulangi kenakalan peserta didik

Bimbingan konseling sekolah SMAN Tempeh tidak hanya menanggulangi kenakalan peserta didik. Seperti yang dipaparkan oleh Ibu Hajjah Lilik Susilowati, S.Pd. yang mengabdikan dirinya selama 27 tahun dan menjabat sebagai koordinator bimbingan konseling di SMA Negeri Tempeh mengatakan:

“ Kegiatan bimbingan konseling sekolah disini diarahkan untuk membantu siswa dalam prestasi baik akademik maupun non akademik, pembentukan akhlak mulia dan bimbingan karier bukan hanya penanganan kenakalan siswa”[53]

Dalam perencanaan di tekankan pada upaya bimbingan belajar tentang cara belajar, memahami dunia kerja dan mengembangkan kemampuan untuk membuat perencanaan serta kemampuan untuk mengambil keputusan

Untuk melaksanakan bimbingan konseling sekolah di SMAN Tempeh, terdapat beberapa langkah-langkah atara lain adalah:

  1. Persiapan Bimbingan Konseling Sekolah

Perlu diketahui juga dalam strategi bimbingan konseling terdapat pembagian tugas guru bimbingan yang ditentukan menurut tingkatan kelas seperti Ira Rindawati, S.Pd. menjadi guru BK di kelas X (sepuluh), Bapak Drs. Wastu Waluyanto, menjadi Guru BK di kelas XI (sebelas) dan Ibu Hj. Lilik Susilowati, S.Pd. menjadi guru BK di Kelas XII (dua belas) yang juga menjabat sebagai koordinator BK. Di SMAN Tempeh. Kerena dengan pembagian ini agar dapat terrealisasikannya sebuah program layanan dan langsung bisa bertatap muka secara kelompok dalam 1 kali dalam seminggu. Seperti tercantum dalam tabel berikut

Tabel 4.5

Pembagian Tugas Guru dalam Bimbingan Konseling

SMA Negeri Tempeh[54]

NO Nama

NIP

Golongan Jabatan

Guru

Jabatan

Dinas

Kelas

yang

Dibimbing

Jumlah

Siswa

Jumlah

Jam

1 Hj. Lilik

Susulowati, S.Pd.

NIP: 130922161

Pembina

IV/a

Guru

Pembina

Koord.

BK.

XII A-1

XII A-2

XII A-3 XII S-1

XII S-2

XII S-3

 

Jumlah

32

32

32

43

42

42

 

223

4

4

4

5

5

5

 

27

2 Drs. Wastu

Waluyanto

NIP: 131662070

Pembina

IV/a

Guru

Pembina

Koord

UKS

XI A-1

XI A-2

XI A-3

XI S-1

XI S-2

XI S-3

 

Jumlah

35

35

34

44

45

45

 

238

4

4

4

5

5

5

 

27

3 Ira

Rindawati, S.Pd.

NIP:

- - GTT X -1

X -2

X -3

X -4

X -5

X -6

 

Jumlah

40

40

40

40

41

39

 

240

5

5

5

5

5

4

 

29

 

Dalam pesiapan bimbingan konseling ini, ada dua program pelayanan yaitu jenis program dan penyusunan program.

1)      Jenis program, meliputi program tahunan, program semester, program bulanan, program mingguan dan program harian

2)      Penyusunan program meliputi program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik yang diperoleh melalui aplikasi instrumem dan substansi program pelayanan bimbingan konseling (jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pe;ayanan, dan volume/beban tugas konselor)

  1. Pengadaan layanan orientasi

Untuk menunjang program yang telah direncanakan maka bimbingan konseling mengadakan orientasi, diantaranya

1)      Mengenal lingkungan sekolah, agar peserta didik mengenal secara objektif lingkungan, baik lingkungan social maupun fisik dan menerima kondisi lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat.

2)      Mengenal peraturan/TATIB sekolah, sebagaimana terlampir

3)      Mengenal kurikulum SMA

4)      Mengenal BK

5)      Mengenal cara belajar

6)      Mengenal kegiatan sekolah

  1. Pengadaan Layanan Informasi

Dalam sebuah proses implementasi BK agar konseli dapat mengenal dan mengetahui dirinya sendiri ataupun menentukan masa depannya maka konselor memberikan informasi diantaranya, mengenal perkembangan sexualitas remaja, NAPZA, perguruan tinggi, penjurusan dan kenaikan kelas serta kelulusan

 

  1. Layanan Penempatan dan Penyaluran

Sebagai konselor haruslah menempatkan peserta didik sesuai dengan tingkat kemampuannya seperti hal yang di ungkapkan oleh Bapak Drs. Wastu Waluyanto, mengatakan

”mendekatkan hayalan dengan kenyataan itu tugas BK, contoh untuk menjadi bidan tinggi minimal 155 cm tetapi tinggi siswa tidak memungkinkan tetapi, kalau memang berminat dalam bidang kesehatan, ya dak usah menjadi bidan. Bisa jadi perawat kan bisa, ya toh?”[55]

Maka dari itu dalam pelayanan penempatan dan penyaluran diantaranya adalah, penempatan dalam kelas, penempatan dalam penjurusan, kelompok belajar, studi lajutan karier dan extrakurikuler.

  1. Layanan Pembelajaran

Peserta didik sering mengalami pemasalahan dalam keaktifan dalam kegiatan belajarnya. Konselor beda dengan guru. Seperti ungkapan yang biasa dipanggil akrab pak Wastu mengatakan,

“Guru mata pelajaran beda dengan konselor, kalau guru kecendrungan pelaksanaan secara klasikal artinya kalau ada anak yang rame dalam kelas langsung disuruh keluaratau di sekors tapi kalau BK ditanyakan dulu apa penyebabnya trus dicarikan solusi. Itu lo letak perbedaanya”[56]

Dalam pembelajaran ada beberapa layanan seperti halnya: pengenalan peserta didik dalam masalah belajar, cara belajar yang efektif dan pengembangan keterampilan belajar.

  1. Pelayanan bimbingan individual yang dimaksud adalah kegiatan bimbingan konseling yang dilakukan secara perorangan seperti halnya pengadaan kartu bimbingan serta mengisi surat pernyataan bermatrai yang dilakukan oleh klien didampingi konselor (sebagaimana terampil).
  2. Pelayanan bimbingan dan konseling kelompok adalah kegiatan bimbingan yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok seperti halnya pembuatan makalah tentang bahaya narkoba untuk sebagai bahan pembelajar juga sebagai salah satu kreatifitas peserta didik.
  3. Himpunan data meliputi tentang, data pribadi peserta didik (kartu pribadi), kebiasaan belajar, karier/pendidikan, prestasi belajar, pelaksanaan konseling dan potensi peserta didik.
  4. Aplikasi Instrumentasi diantaranya meliputi: instrumen tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan permasalahan peserta didik
  5. Konferensi kasus hal ini untuk membahas kasus-kasus tertentu yang dialami peserta didik
  6. Kunjungan rumah untuk bertemu dengan orang tua, keluarga dan peserta didik yang mengalami masalah

Layanan bimbingan konseling di SMAN Tempeh diterapkan dengan sistem kekeluargaan dalam artian pengadaan pelayanan disetiap peserta didik penyadaran penyadaran terhadap setiap tindakannya. Entah yang dilakukan teman terutama dirinya sendiri.

  1. 2. Bentuk-Bentuk Kenakalan Peserta Didik

Bimbingan merupakan salah satu komponen dari pendidikan kita, mengingat bahwa bimbingan adalah merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang di berikan kepada individu pada umumnya dan peserta didik pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi perkembangan peserta didik antara lain:

  1. IQ yang rendah
  2. Lingkungan kurang mendukung
  3. Kurangya perhatian orang tua
  4. Sarana dan prasarana belajar yang kurang memadai
  5. Ekonomi rendah

Seperti selogan SMAN Tempeh di atas ”Sekolah desa prestasi kota” membuktikan tahun kemarin juara empat sejawa timur dari segi akademis.

Sedangkan kenakalan yang rentan terjadi di SMAN Tempeh, ibu Lilik mengungkapkan dari jumlah peserta didik 701 yang nakal Cuma 10 dan kenakalan yang terjadi masih dalam taraf ringan yaitu, telat dan jarang masuk. Dan Bapak Wastu menambahkan “pernah juga terjadi perkelahian dan kami sebagai konselor mengadakan pemanggilan orang tua”[57]

Setiap sesuatu tindakan meski ada yang melatar belakangi suatu kejadian, dalam artian ada sebuah motiv yang mendorong. Maka dari itu akibat kenakal peserta didik di SMAN Tempeh antara lain adalah: Pertama, pengaruh teman; Kedua, jauhnya jarak rumah; Ketiga, kendala keuangan; Keempat, bis/angkot yang telat

Sebagai konselor yang dibekali oleh teori-teori pendekatan-pendekatan konseling untuk menanggulangi masalah yang dialami peserta didik. Pak Wastu mengatakan,

“Sebagai konselor kalau tidak dibekali oleh teori-teori pendekatan konseling bagaikan orang yang pergi ke ruang tata surya yang tidak membawa peta dan perlengkapan-perlengkapan ruang angkasa, keruang tata surya itu jauh tanpa peta lagi”[58]

Dalam menangulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh diantaranya adalah: pertama, Dipanggil keruang BK untuk dicarikan solusi untuk menanyakan masalah yang dihadapi, di Bantu untuk langkah penyelesaiannya dan di evaluasi; Kedua, Pemahaman masalah dengan menggunakan strategi intervensi; Ketiga, Dikembalikan pada tatib; Keempat, Pemanggilan orang tua. Tapi Pak Wastu mengatakan:

“Sekolah bukanlah tempat pengadilan yang gunanya untuk mengadili akan tetapi tempat pendidikan yang gunanya untuk mendidik. Dalam artian kami sebagai konselor dalam menangani suatu masalah haruslah tuntas. Siapa tahu bisa berubah”

Adapun tatib SMAN Tempeh sebagai berikut:

TATA TERTIB

SMA NEGERI TEMPEH

TAHUN PELAJARAN 2008-2009

 

NO KETERANGAN
1 HAL MASUK SEKOLAH
1.1. Peserta didik sudah hadir di sekolah 15 menit sebelum bel dibunyikan
1.2. Peserta didik datang terlambat lebih dari 5 menit wajib lapor kepada guru piket
1.3. Peserta didik tidak masuk, orang tua/wali murid supaya memberi informasi kepada sekolah, hadir secara langsung menemui guru piket
1.4. Peserta didik piket kelas, membersihkan kelas setelah jam terakhir, untuk piket hari berikutnya

 

 

2 KEWAJIBAN PESERTA DIDIK
2.1. Peserta didik wajib taat dan patuh kepada sekolah, guru dan karyawan
2.2. Peserta didik ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya 7K
2.3. Peserta didik memakai seragam dan atribut yang telah ditetapkan
2.4. Peserta didik mengikuti program sekolah
2.5. Peserta didik menyelesaikan administrasi sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku
2.6. Peserta didik merasa ikut memiliki, merawat dan menjaga sarana dan prasarana yang ada di sekolah

 

 

3. LARANGAN PESERTA DIDIK
3.1. Peserta didik meninggalkan sekolah tanpa ijin dari guru piket
3.2. Peserta didik melakukan kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, peraturan yang ada di sekolah dan atau peraturan pemerintah
3.3. Menerima dan atau mengajak/menyuruh tamu masuk ke lingkungan sekolah tanpa seijin pihak sekolah

 

 

4. HAK PESERTA DIDIK
4.1. Peserta didik mengikuti pelajaran
4.2. Peserta didik menggunakan fasilitas disekolah
4.3. Peserta didik mendapatkan perlakuan yang sama
4.4. Peserta didik mengikuti kegiatan sekolah

 

KRITERIA BENTUK-BENTUK PELANGGARAN

DAN BOBOT PELANGGARAN

SMA NEGERI TEMPEH

TAHUN PELAJARAN 2008-2009

 

NO BENTUK PELANGGARAN BOBOT PELANGGARAN
I SIKAP PERILAKU

 

 

1.1. Mencoret dinding, meja, kursi, pagar dan fasilitas lain yang ada di sekolah. 25

 

1.2. Bertindak tidka senonoh kepada teman atau berbuat tidak baik atau berkata kotor. 25

 

1.3. Mengancam atau mengintimidasi 25

 

1.4. Membawa atau merokok di sekolah 25

 

1.5. Bertindak tidak sopan kepada kepala guru/guru/karyawan sekolah 50

 

1.6. Merusak sarana dan prasarana sekolah 50

 

1.7. Membawa senjata tajam, senjata api dan sejenisnya 50

 

1.8. Memalsu tandatangan orang tua, tata usaha, guru dan kepala sekolah 50

 

1.9. Bertindak asusila 50

 

1.10. membawa buku atau majalah porno, vcd porno, atau hp berisi gambar atau film porno 50

 

1.11. Mencuri atau berjudi di lingkungan sekolah 100

 

1.12. Memakai, membawa dan mengedarkan napza atau narkoba 100

 

1.13. Berkelahi di lingkungan sekolah atau di luar sekolah 100

 

1.14. Menganiaya atau mentarget teman 100

 

1.15. Hamil atau menghamili 100

 

1.16. Menikah baik secara resmi atau tidak resmi 100

 

1.17. Mendirikan atau menjadi anggota/pengurus gank/diluar ketentuan yang berlaku 100

 

1.18. Mencemarkan nama baik sekolah akibat pelanggaran pidana/perdata di luar sekolah 100

 

 

 

II KERAJINAN

 

 

2.1. Datang terlambat lebih dari 5 menit 10

 

2.2. Tidak mengikuti upacara 25

 

2.3. Meninggalkan kelas/sekolah tanpa  keterangan 25

 

2.4. Tidak masuk sekolah tanpa ijin 25

 

 

 

III KERAPIAN

 

 

3.1. Berambut panjang/gondrong (untuk peserta didik putra) 10

 

3.2. Memakai asesoris (giwang, kalung, bando, rantai, gelang dan sebagainya) untuk peserta didik putra 10

 

3.3. Tidak memakai sepatu warna hitam pada hari senin dan atau saat upacara, tidak memakai sepatu saat jam-jam efektif 10

 

3.4. Menempel atau menjahit pakaian dengan stiker atau sejenisnya 10

 

3.5. Pakaian ketat, rok ketat, dan atau terlalu tinggi, rok harus 10 cm dibawah lutut (jika tidak berjilbab) 25

 

3.6. Mengenakan pakaian seragam diluar ketentuan sekolah 25

 

3.7. Menggunakan pewarna rambut 25

 

3.8. Memakai pakaian transparan 25

 

3.9. Bertato atau bertindik 50

 

Tambahan :

1. Kewajiban peserta didik

2.7. Ikut mengamankan kendaraan (kunci pengaman) dan helm yang dibawa ke sekolah.

 

2. Larangan Peserta didik

3.4. Bermain atau beristirahat di tempat parkir kendaraan


BOBOT PELANGGARAN DAN SANKSI

SMA NEGERI TEMPEH

TAHUN PELAJARAN 2008-2009

 

NO KLASIFIKASI PELANGGARAN BOBOT SANKSI
1 Pelanggaran Ringan 10-25 1. Peringatan lisan

 

 

 

2. Membuat surat pernyataan

 

 

 

 

2. Pelanggaran Sedang 50 1. Panggilan orang tua

 

 

 

2. Peringatan tertulis

 

 

 

3. Membuat surat pernyataan

 

 

 

 

3. Pelanggaran Berat 75 1. Dikembalikan pada orang tua pada waktu tertentu (skorsing 3 hari)

 

 

 

2. Membuat pernyataan

 

 

100 1. Dikembalikan kepada orang tua selamanya

 

 

2. Membuat pernyataan pengunduran diri

 

Catatan :1. Tata tertib ini berlaku untuk 1 tahun pelajaran, apabila dipandang perlu dapat diadakan pembetulan semestinya.

2. Setelah surat pernyataan di bawah ini ditandatangani mohon segera dikembalikan ke sekolah.

 

 

Dalam pengadaan pelayanan bimbingan harus terstruktur dengan jelas. Mekanisme penanganan peserta didik diperlihatkan dalam bagan berikut ini:

Bagan 4.3

Struktur Organisasi Pelayanan

Bimbingan Konseling

SMA Negeri Tempeh

Periode 2008-2009[59]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3. Pendukung dan Kendala dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik

Dalam menanggulangi kenakalan peserta didik adalah untuk menghadapi atau menangani prilaku peserta didik yang sudah terjadi atau belum terjadi. Maka dari itu di SMAN Tempeh ditingkatnya akhlak mulia yang sesuai dengan dengan visi dan misi SMAN Tempeh.

Guru BK dan pihak sekolah mengadakan kerjasama dalam menanggulangi kenakalan peserta didik agar kenakalan peserta didik dapat di tanggulangi, antara lain, peningkatan profesianalisme (MGBK), peningkatan pelayanan dengan pihak terkait dan menjalin hubungan dengan orang tua.

Adapun pendukung untuk menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh antara lain adalah:

  1. Wali kelas dan guru mata pelajaran
  2. semua unit SMAN Tempeh
  3. Mendatangkan tokoh Agama sebagai penanaman keagamaan agar teciptanya akhlaqul karimah dan pribadi yang santun
  4. Orang tua guna untuk merealisasikan TATIB SMAN Tempeh
  5. Pihak kepolisian dalam merealisasikan bahaya narkoba
  6. Pihak dokter

Adapun kendala dari pelayanan bimbingan konseling yaitu, tertanamnya karakter lingkungan pada peserta didik dan kurangnya perhatian orang tua dalam lingkungan keluarga.[60]

  1. C. Pembahasa Temuan

Setelah data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan dengan metode wawancara, observasi dan data dokumentasi maka selanjutnya peneliti akan melakukan analisa data untuk menjelaskan lebih lanjut hasil dari penelitian. Sesuai dengan hasil teknik maka data yang telah diperoleh akan dipaparkan oleh peneliti dan dianalisa sesuai dengan hasil yang diteliti. Berdasarkan pada pokok masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. Adapun hasil temuan yang peneliti peroleh adalah:

  1. 1. Strategi bimbingan Konseling dalam menanggulangi kenakalan peserta didik

Dalam strategi bimbingan konseling sekolah di SMAN Tempeh dilakukan dengan 11 strategi bimbingan yaitu: a. Tahap persiapan (penyusunan program dan jenis program) b). Pengadaan layanan orientasi; c). Layanan informasi; d. Layanan penempatan dan penyaluran; e). Layanan pembelajaran; f. Pelayanan bimbingan individual; g). Pelayanan bimbingan dan konseling kelompok; h). Himpunan data; i). Aplikasi instrumentasi; j). Konferensi kasus; k). Kunjungan rumah. Hal ini sangat sangat saklek sekali dengan pendapat Winkel dalam artikel Yudha Kusniyanto mengenai pengertian bimbingan.

Dalam implementasi sebuah program layanan guru BK mengadakan tatap muka dengan peserta didik disetiap kelas dalam 1 (satu) minggu 1 (satu) kali. ini dibuktikan melalui wawancara peneliti dengan koordinator bimbingan konseling, Ibu Hj. Lilik Susilowati, S.Pd. Beliau mengatakan bahwa:

“Kami memang meminta masuk kelas karena bisa menyampaikan semua program secara menyeluruh dalam setiap satu minggu satu kali”

Dalam kegiatan BK selain kerja sama kepada semua pihak sekolah juga terdapat penanaman moral dengan mendatangkan para tokoh Agama maupun kepolisian yang langsung didatangkan ke sekolah karena di SMAN Tempeh ini ditingkatkannya akhlak mulia. Seperti ungkapan Ibuk Lilik:

“seperti halnya menggunakan sepedah motor itu harus mor-mor dikencengi dulu biar jalannya enak”

 

Hal tersebut juga Ketut Sukardi, berpendapat bahwa pelaksanaan bimbingan konseling ini berjalan efektif  dan lancar, mengadakan kerja sama dengan pihak dalam sekolah, seperti seluruh tenaga pengajar (guru), seluruh tenaga administrasi/keamanan dan dengan organisasi intra sekolah dan kerja sama dengan pihak luar sekolah seperti, orang tua peserta didik, lembaga  atau organisasi kemasyarakatan dan tokoh masyarakat atau Agama.

  1. 2. Bentuk-Bentuk Kenakalan Peserta Didik

Bentuk kenakalan yang rentan terjadi di SMAN Tempeh, ibu Lilik mengungkapkan dari jumlah peserta didik 701 yang nakal Cuma 10 dan kenakalan yang terjadi masih dalam taraf ringan yaitu, telat dan jarang masuk. Dan Bapak Wastu menambahkan “pernah juga terjadi perkelahian dan kami sebagai konselor mengadakan pemanggilan orang tua”[61]

Hal ini di latar belakangi oleh Pertama, pengaruh teman; Kedua, jauhnya jarak rumah; Ketiga, kendala keuangan; Keempat, bis/angkot yang telat dan cara menangulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh diantaranya adalah: pertama, Dipanggil keruang BK untuk dicarikan solusi untuk menanyakan masalah yang dihadapi, di Bantu untuk langkah penyelesaiannya dan di evaluasi; Kedua, Pemahaman masalah dengan menggunakan strategi intervensi; Ketiga, Dikembalikan pada tatib; Keempat, Pemanggilan orang tua.

  1. 3. Pendukung dan Kendala dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik

Adapun pendukung untuk menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh antara lain adalah:

  1. Wali kelas dan guru mata pelajaran
  2. semua unit SMAN Tempeh
  3. Mendatangkan tokoh Agama sebagai penanaman keagamaan agar teciptanya akhlaqul karimah dan pribadi yang santun
  4. Orang tua guna untuk merealisasikan TATIB SMAN Tempeh
  5. Pihak kepolisian dalam merealisasikan bahaya narkoba
  6. Pihak dokter

Adapun kendala dari pelayanan bimbingan konseling yaitu, tertanamnya karakter lingkungan pada peserta didik dan kurangnya perhatian orang tua dalam lingkungan keluarga.[62]

 

BAB V

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Setiap permasalahan tidak terlepas dari sebuah pembahasan dan kesimpulan serta saran, pembahasan yang telah dipaparkan di depan menghasilkan beberapa kesimpulan dan sekaligus jawaban dari fokus masalah yang sudah ditentukan. Di antaranya sebagai berikut:

Bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh terdapat Dalam strategi bimbingan konseling sekolah di SMAN Tempeh dilakukan dengan 11 strategi bimbingan yaitu: a. Tahap persiapan (penyusunan program dan jenis program) b). Pengadaan layanan orientasi; c). Layanan informasi; d. Layanan penempatan dan penyaluran; e). Layanan pembelajaran; f. Pelayanan bimbingan individual; g). Pelayanan bimbingan dan konseling kelompok; h). Himpunan data; i). Aplikasi instrumentasi; j). Konferensi kasus; k). Kunjungan rumah.

Pelayanan bimbingan konseling terdapat mata pelajaran dan adanya tatap muka dengan klien secara kelompok dal satu minggu satu kali.

Dalam kegiatan BK selain kerja sama kepada semua pihak sekolah juga terdapat penanaman moral dengan mendatangkan para tokoh Agama maupun kepolisian yang langsung didatangkan ke sekolah karena di SMAN Tempeh ini ditingkatkannya akhlak mulia

Adapun pendukung untuk menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh antara lain adalah:

  1. Wali kelas dan guru mata pelajaran
  2. semua unit SMAN Tempeh
  3. Mendatangkan tokoh Agama sebagai penanaman keagamaan agar teciptanya akhlaqul karimah dan pribadi yang santun
  4. Orang tua guna untuk merealisasikan TATIB SMAN Tempeh
  5. Pihak kepolisian dalam merealisasikan bahaya narkoba
  6. Pihak dokter

Adapun kendala dari pelayanan bimbingan konseling yaitu, tertanamnya karakter lingkungan pada peserta didik dan kurangnya perhatian orang tua dalam lingkungan keluarga.

  1. Saran-Saran

Sejalan dengan rincian permasalahan serta kegunaan penelitian ini bagi pengembangan ilmu, berikut dikemukakan saran-saran berdasarkan uraian dan sesuai dengan kesimpulan penelitian sebagai berikut:

  1. Bagi Dinas Pendidikan Nasional diharapkan untuk lebih memperluas pengembangan profesionlisme guru BK atau konselor, pada semua lembaga pendidikan. Diharapkan juga untuk mata pelajaran terintegrasi hendaknya mengintegrasikan mata pelajaran bimbingan konseling tersebut dengan mata pelajaran Pendidikan Agama;
  2. Adanya mata pelajaran bimbingan konseling di sekolah diharapkan dapat terealisasikannya program bimbingan secara menyeluruh dan membuka cakrawala berpikir serta memahami pribadi peserta didik dalam menentukan masa depannya lebih bermanfaat dan berguna bagi negara serta berahlakul karimah;
  3. Bagi Kepala Sekolah diharapkan untuk lebih meningkatkan profesionalisme guru BK dan meningkatkan mutu sekolah baik akademik maupun non akademik dengan terciptanya suasana sekolah yang baik dan nyaman melalui program sekolah Adiwiyata agar sesuai dengan visi sekolah;
  4. Bagi seluruh guru dan karyawan hendaknya selalu aktif mendukung setiap kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah dan dalam proses pembelajaran hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan fasilitas pendukung yang telah tersedia;
  5. Sebagai bentuk strategi bimbingan konseling sekolah dapat terus ditingkatkannya akhlak mulia dalam usaha penyadaran jiwa yang mapan serta dapat diaplikasikan di manapun peserta didik itu berada untuk menjaga nama almamater sekolah;
  6. Bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut misalnya dalam masalah pelayanan bimbingan konseling sekolah dapat meningkatkan minat belajar dan kreatifitas peserta didik dalam dunia pendidikan, dan upaya meningkatkan mutu sekolah baik dari segi akademik maupun non akademik.

 

 


[1] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisis Psikologis Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2004, hal. 28.

[2] Depdikbud 1993 dalam Hakim, Peran Guru Pembimbing dalam Aspek Pengembangan Diri pada Kurikulum KTSP, http://padang-today.com/index.php?today=article&j=4&id=199, (19 Juli 2009),1.

[3] Departemen Agama, Al-Quran dan terjemahannya, Jakarta, Bumi Restu, 2004, 421.

[4] Frederick Harbison dalam http://nhowitzer.multiply.com/journal/item/1 (July 2009), 3.

 

[5] UU Sisdiknas No. 20, Pendidikan Nasional, Semarang, CV. Aneka Ilmu, 2003, hal. 4.

[6] Prayitno, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Renika Cipta, 1994, hal. 354.

[7] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Renika Cipta, 1994, Hal. 130.

[8] Prayitno dan Erman, Dasar-dasar Bimbingan, 105.

[9] http://bengkelgurugaul.blogspot.com/2009/05/pentingnya-bimbingan-konseling-untuk.html(juni, 2009),4.

[10] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta, 2004, hal. 99.

[11] Dewa Ketut Sukardi, Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Surabaya, Usaha Nasional, 1983, hal. 20.

[12] Winkel dalam artikel Yudha Kusniyanto, Pentingnya Bimbingan konseling untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia, http://bengkelgurugaul.blogspot.com/2009/05/pentingnya-bimbingan-konseling-untuk.html, (Mei. 2009), 2.

[13] Prayitno dan Erman , Dasar-Dasar Bimbingan…, hal. 131.

[14] http://konselingindonesia.com Powered by: Joomla! Generated, (Juli, 2008), 2.

[15] Prayitno dalam Dewa kutut Sukardi dan Desak P. E. Nila Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta, 2008, hal. 5.

[16] Prayitno dan Erman , Dasar-Dasar Bimbingan…, hal. 105.

[17] Mungin Eddy Wibowo. Konseling di Sekolah, Semarang, Jilid I. FIP IKIP, 1986, hal. 39.

[18] Prayitno dan Erman , Dasar-Dasar Bimbingan…, hal. 132.

[19] Kutut Sukardi dan Desak P. E. Nila Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta, 2008, hal. 7.

 

[20] http://sulaimanzen.webs.com/blog.htmhttp://sulaimanzen.webs.com/blog.htm (april. 2008).

[21] Prayitno dan Erman , Dasar-Dasar Bimbingan…, hal. 112.

[22] Dewa Ketut Sukardi, Seri Bimbingan: Organisasi Administrasi Bimbingan Konseling di Sekolah, Surabaya, Usaha Nasional, 1983, hal. 183.

[23] Sukardi dan Desak, Proses Bimbingan…,hal. 80-91.

[24] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta, Renika Cipta, 2000 hal. 64-68.

[25] M. Gold dan J. Petronik, dalam Sarlita Wirawan, psikologi remaja, Jakarta, Rajawali Pers, 1986, hal. 196.

[26] http://disiniakuada.multiply.com/journal/item/7 (desember 2007). hal. 2.

[27] Willis Sofyan, Psikologi Remaja, Jakarta, Renika Cipta, 1986, hal. 61.

[28] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta, Terazu mizan, 2004, hal. 163-164.

[29] http://sirs-banjarnegara.com/content/view/10/2/ (desember 2007) hal. 1.

[30] Soedarsono, Kenakalan Remaja, Jakarta, Renika Cipta, 1991, hal.7.

[31] http://disiniakuada.multiply.com/journal/item/7 (desember 2007). hal. 5-6.

[32] Hadiri Nawawi, Pendidikan dalam Islam, Jakarta, Al-Iklas, hal. 186.

[33] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, Surabaya, Renika Cipta, 1996, hal. 107.

[34] Mangunwijaya, dalam Firdaus M. Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Jogjakarta, Logung Pustaka, 2005, hal. 89.

[35] Soedarsono, Kenakalan Remaja, hal.131.

[36]Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008, Hal.4.

[37]Nasir, Metode Penelitian, 54.

[38] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hal. 129.

[39]Nasir, Metode Penelitian, 175.

[40] Suharsimi, Prosedur Penelitian, 107.

[41]Arikunto, Prosedur Penelitian, 231.

[42]Nasir, Metode Penelitian, 346.

[43]Hubermen, A. Michael dan Matehew, Analisis Data Kualitatif Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1992, Hal.28.

[44] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008, hal. 324.

[45] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[46] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[47] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[48] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[49] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[50] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[51] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[52] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[53] Hasil wawancara, Ibu Hajjah Lilik Susilowati, S.Pd. Koordinator Bimbingan Konseling sekolah di  SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 september 2009, Senin.

[54] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[55] Hasil wawancara, Bapak Drs. Wastu Waluyanto. Guru bimbingan dan konseling SMAN Tempeh, 23 september 2009, Rabu.

[56] Hasil wawancara, Bapak Wastu.  23 September 2009, Rabu.

[57] Hasil Wawancara Ibu Lilik dan Bapak Wastu pada 23 September 2009, Rabu.

[58] Hasil wawancara Bapak Wastu, pada 23 September 2009, Rabu.

[59] Sumber data: Dokumen SMA Negeri Tempeh Lumajang, 21 Oktober 2009, Rabu.

[60] Hasil Wawancara Ibu Lilik pada 21 September 2009, Senin.

[61] Hasil Wawancara Ibu Lilik dan Bapak Wastu pada 23 September 2009, Rabu.

[62] Hasil Wawancara Ibu Lilik pada 21 September 2009, Senin.

MATRIK

MATRIK SKRIPSI

JUDUL VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR SUMBER DATA METODE PENILITIAN RUMUSAN MASALAH
Bimbingan Konseling Sekolah dalam Menanggulangi Kenakalan Peserta Didik Di SMA Tempeh  Tahun Pelajaran 2008/2009 1. Bimbingan Konseling Sekolah

2.  Kenakalan Peserta Didik

 

a. Strategi

a. Kenakalan dalam sekolah

b. Kenakalan luar sekolah

* Identifikasi Kasus, Identifikasi Masalah, Diagnosis

* Bolos dan Terlambat Sekolah, Ramai dalam Kelas, merokok, Melawan Guru, Penampilan Tidak Rapi dan Suka Mengganggu Teman

* Ngedruks, ugal-ugakan dijalan, berkelahi, tindian, melawan orang tua, tindakan asusila dan lain-lain

Primer :

1. Guru BK (bimbingan konseling)

 

Sekunder

1. Kepala Sekolah

2. Waka Kurikulum

3. Waka Humasy

5. Kesiswaan

6. Guru dan segenap karyawan sekolah

7. Siswa SMAN Tempeh

1. Jenis penelitian: Kualitatif

2. Tehnik pengumpulan data:

- Observasi

- Wawancara

- Dokumentasi

 

3. Metode Analisis Data Deskriptif

1. Pokok Masalah bagaimana strategi bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan Peserta didik di SMAN di Tempeh

2. Sub Pokok Masalah

a. bagaimana bentuk-bentuk kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh

b. bagaimana cara bimbingan konseling sekolah dalam menanggulangi kenakalan peserta didik di SMAN Tempeh